Bintaro dan Kenangan yang Terkunci Selama 34 Tahun

Tahun 1987, waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SD, orangtua saya memutuskan untuk pindah rumah dan meninggalkan Bintaro. 34 tahun berselang, hari Minggu kemarin, bersama seorang teman yang belakangan baru tahu bahwa kami se-SD, saya kembali menyusuri jalan-jalan penuh kenangan di area tempat saya mengeyam pelajaran-pelajaran awal tentang hidup ini.

Minggu siang yang panas, kami janjian untuk bertemu di Plaza Bintaro Jaya, yang buat saya adalah BinPlaz. Sapaan teman saya saat kami bertemu adalah: “Ya ampun! Inget nggak sih loe zaman-zaman dulu, tempat ini kan hits banget!”
Sayapun menjawab: “Zaman gue di Bintaro dulu tempat ini kayaknya belum ada deh. Tapi gue ingat tempat ini jadi tempat favorit untuk nonton pas zaman-zaman kuliah karena bioskopnya murah banget!”
Sejak itu dimulailah obrolan tentang ini-itu yang terjadi di plaza yang tidak terlalu besar dan kini terasa seperti ITC karena banyak pedagang di area terbukanya.

Tak berlama-lama di dalam plaza, kamipun melanjutkan misi utama hari itu: menapaki jalanan masa kecil. Dengan bermobil, saya dibawa oleh teman saya menuju area yang “tidak berubah” dari Bintaro Jaya. Di area itulah dulu, saat masih kecil, saya bersepeda dan bermain bersama teman-teman.

Dengan gembira saya menunjuk-nunjuk berbagai titik sambil bercerita, dulu saya begini dan begitu di sana dan sini. Dulu ini mini market, dulu ada bus surat di situ, dulu saya sepedaan ke situ, dulu ini terlihat besar, dan dulu ini, dulu itu lainnya. Teman saya yang memang sampai sekarang tinggal tidak jauh dari situ hanya mengangguk-ngangguk saja sambil sesekali ikut berkomentar tentang lokasi-lokasi yang saya tunjuk.

Perjalanan makin menarik ketika saya diajak untuk melihat rumah masa kecil. Walau sekarang rumah itu terlihat hancur dan tidak terawat, tapi saya masih bisa melekatkan ingatan saya pada pemandangan yang sudah jauh berubah itu. “Dulu ada pohon nangka di sana, pohon rambutan yang asam di situ, pohon rambutan yang agak manis di sini, dan pohon srikaya di sana. Garasi di sini. Ada kamar di situ,” oceh saya tanpa henti.

SD Saya. Foto: Febrynech

Perjalanan berlanjut ke tujuan berikutnya: lokasi SD saya! Lagi-lagi di sepanjang jalan saya tak henti bicara tentang dulu, dulu, dan dulu. “Kayaknya, ini pertama kali gue ke tempat ini lagi sejak pindahan 34 tahun lalu deh.” Itu kata-kata yang mengagetkan teman saya.
“Ah, gila! Pantes aja loe kayak seneng banget ya daritadi. Tapi ingatan loe hebat juga sih masih ingat tempat-tempat ini-itu.”

SD saya, walau meleset di beberapa kelokan, tapi secara garis besar saya masih ingat jalan-jalan kecilnya. Bangunannya tentu sudah berubah. Dulu hanya ada satu bangunan, berlantai satu pula. Sekarang sudah bertingkat dan banyak bangunannya. Saya tidak mengenalinya lagi memang, tapi kenangan hari pertama sekolah masih terlintas di kepala.

Perjalanan kami akhiri dengan mencari sebuah pasar di dalam kawasan Bintaro Jaya yang dulu adalah lokasi makan boga bahari murah. Pasarnya sudah berubah. Dulu hanyalah pasar basah sederhana yang di malam hari jadi pusat jajanan. Tapi kini sudah jadi pasar dengan bangunan bertingkat. Lagi-lagi saya hanya bisa melekatkan kenangan lama di pasar itu. Kenangan masa pacaran saat kuliah dulu.

Danang

Seorang petani yang gemar memasak, petualang yang gemar pamer foto, pemilik kedai kopi yang gemar menulis, penikmat film yang menggilai Tarkovsky dan Kubrick, dan belakangan menjadi penikmat dan pecinta Bintang.

3 Comments

  1. Ayo, kenangan masa pacarannya diceritakan juga. Hihihi.

    1. Gyahaha…nggak menarik sih kisah pacaran ala anak kuliahan yang berakhir seperti pacaran-pacaran ala anak kuliahan lainnya.

  2. […] proses pindahan dari BSD ke Bintaro. Bahkan di akhir Februari kemarin, seperti yang saya tulis di sini, saya sempat menikmati Bintaro yang merupakan daerah tempat saya menghabiskan masa kecil. Dengan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *