Catatan Penutup 2020

KehidupanLeave a Comment on Catatan Penutup 2020

Catatan Penutup 2020

Tahun 2020 adalah tahun yang istimewa. Sebuah tahun yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Dalam obrolan dengan klien saya di Australia sana, kami mengatakan bahwa tidak menyangka dalam hidup kami yang rasanya sudah berada di dunia modern, harus merasakan apa yang diberikan oleh tahun 2020.

Tahun 2020 dibuka dengan perjalanan menyenangkan saya dan suami ke Yogyakarta. Ini perjalanan kami yang kedua ke kota ini. Setelah sebelumnya kami naik kereta api, kali ini kami memutuskan untuk naik bus malam. Idenya adalah dari pengalaman saya naik bus ke Bali setahun sebelumnya.

Selama di Yogyakarta kami menginap di hotel unik di pinggiran kota dengan warung soto yang super sedap di muka gangnya. Untuk transportasi, seperti sebelumnya, kami memilih untuk menyewa sepeda motor. Lumayan lah, dari Taman Sari, Istana Ratu Boko, kompleks candi Prambanan, sampai ke terjalnya jalan ke Sendang Sono kami arungi naik motor.

Sepanjang perjalanan itu kami juga menemukan makanan-makanan unik yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Perjalanan spontan memang selalu menarik dan meninggalkan kesan tersendiri.

Pada akhir Februari suami membuat keputusan besar untuk pindahan ke sebuah rumah di area BSD. Pindahan ini sangat menyenangkan karena yang tadinya kami tertungkung di dalam satu kamar sempit dengan dapur umum, sekarang kami bisa leluasa memasak kapan saja dan apa saja yang kami ingin. Akses dari rumah menuju stasiun MRT-pun mudah dan dekat. Saya sempat merasakan naik MRT dari rumah ke tempat kursus bahasa Mandarin di Salemba, mudah dan cepat.

Selain itu, mal, pasar modern, serta terminal shuttle bus dari dan menuju bandara juga sangat mudah digapai. Sungguh sebuah perubahan yang menyenangkan!

Selanjutnya pada bulan Maret, saya masih sempat kerja dan jalan-jalan ke Bali walaupun virus Korona sudah masuk ke Indonesia. Saat itu saya dan klien saya yang dari Australia belum tertalu menganggap virus ini adalah virus yang serius.

Kami masih sempat berkeliling melakukan pekerjaan dan keluar-masuk pasar untuk membeli bermacam suvenir. Perjalanan ke Bali bagian Timurpun dengan gembira kami jalani. Ya, setelah tahun lalu ke Bali bagian Utara, kali ini kami ke Amed di Bali bagian Timur.

Siapa sangka setelah perjalanan ke Bali itu semua seperti jungkir-balik. Virus Korona menimbulkan pandemi yang mendunia. Istilah lockdown mulai jadi pembicaraan sehari-hari. Waktu itu, Jakarta mulai memperkenalkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Orang diwajibkan (walau tidak secara ketat) untuk berdiam di rumah. Istilah WFH (Work From Home) mulai merebak.

Saat itu saya dan suami memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Cipanas. Berkat internet, suami tetap bisa mengerjakan pekerjaannya dan kami tetap bisa mengikuti kelas-kelas terakhir bahasa Mandarin secara daring. Dalam masa ini pula kami berkenalan dengan pekerjaan sampingan yang diberikan oleh klien saya yaitu menulis artikel untuk blog mereka. Selain itu, saya juga mendapat pemasukan baru dari mengajar bahasa Indonesia secara daring.

Sekitar bulan Juli, kami mulai kembali ke rumah di BSD. WFO (Work From Office) sudah mulai diperbolehkan walaupun sebenarnya angka penularan virus Korona masih sangat tinggi. Tapi ya mau tak mau suami harus bersiap di Jakarta kalau-kalau kantornya mulai mengharuskan WFO.

Pada Agustus, beberapa hal menarik terjadi. Saya yang harus mengurus perpanjangan masa berlaku SIM merasakan betapa menyenangkannya mengurus SIM Online di sebuah mal di bilangan Alam Sutra. Begitu juga saat terpaksa membayar pajak motor dengan terlambat karena tahun ini tentu saya tidak bisa ke Bandung sendiri, rupanya ada saja kemudahan yang saya rasakan. Selain denda yang tidak harus dibayarkan, pembayaran pajak kali ini juga rupanya lebih praktis dengan memanfaatkan jasa kurir.

September adalah awal pengetahuan baru yang menarik buat saya. Bulan ini saya mulai mengenal jual-beli saham di Bursa Efek Jakarta. Sejak itu bisa dibilang hidup saya berubah. Dari hari ke hari dipenuhi dengan keasyikan menjual dan membeli saham serta tentu saja mengikuti isu-isu yang berkembang dan berpengaruh pada pasar.

Tahun ini ditutup dengan pulang ke Cipanas. Menikmati udara segar dan tenangnya rumah sendiri. Berusaha untuk makan bersih, hanya dari apa yang tumbuh di kebun sendiri.

Libur Natal terlewati, begitu juga libur tahun baru. Semua dengan ketenangan dan kesejukan. Semoga tahun 2021 akan jadi tahun yang jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.

Seorang petani yang gemar memasak, petualang yang gemar pamer foto, pemilik kedai kopi yang gemar menulis, penikmat film yang menggilai Tarkovsky dan Kubrick, dan belakangan menjadi penikmat dan pecinta Bintang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top