Clouds

Film PandanganLeave a Comment on Clouds

Clouds

Clouds adalah salah satu film menarik yang saya tonton di Disney Plus atau yang kalau di Indonesia sini sebenarnya adalah Hotstar. Menurut saya jalan ceritanya cukup bagus, tapi entah kenapa film ini rasanya jarang dibicarakan.

Clouds bercerita tentang remaja yang terkena kanker atau tepatnya Osteosarcoma. Jadi teringat “The Fault in Our Stars” (2014) yang dibintangi si ganteng Ansel Elgort? Sama! Saya juga berpikir bahwa film ini akan serupa tapi tak sama dengan film itu. Bahkan di dalam filmnyapun hal ini disebutkan sih. Lalu apa asyiknya nonton film yang serupa tapi tak sama?

OK! Ada setidaknya tiga hal yang menarik dalam film ini. Pertama, lagunya! Lagunya menurut saya bagus banget. Mau dengar? Nyoh!

Konon lagu ini adalah lagu yang benar-benar diciptakan oleh Zach Sobiech (Fin Argus) dan dinyanyikan bersama sahabatnya Sammy Brown (Sabrina Carpenter) lalu direkam sebelum akhirnya dia meninggal dunia karena penyakitnya.

Kedua, adalah kisah cinta Zach Sobiech yang tidak biasa. Kalau dalam film-film remaja pada umumnya kisah cinta dengan sahabat akan berakhir bahagia, maka film ini tidak demikian. Ini menurut saya sih menarik ya. Karena memang pada kehidupan nyata, tidak semua rasa cinta berujung bahagia atau menjadi pasangan.

Ketiga, sesuatu yang agak jarang disinggung dalam film tentang penyakit yang tidak ada obatnya dan hanya tinggal menunggu kematian, adalah adanya satu adegan dalam film ini di mana sang ibu mencari alternatif pengobatan ke hal-hal yang berbau mistis agama.

Bagi banyak orang bisa jadi ini adalah hal yang tidak masuk akal. Itupun digambarkan dalam film ini dengan sangat baik (dan membuat saya tersenyum) ketika sang ibu mengajak suaminya untuk membawa Zach ke Lourdes, di mana di sana terkenal dengan air yang konon bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan kelumpuhan. Sang ayah bertanya dengan pesimis: “Water? Really? He had 24 rounds of chemo. You know how much disappointment he’s (Zach) already had. I just wanna save him from this crazy idea that a miracle could all of sudden happen just ’cause we went across the fricking ocean for it.”

Ketiga hal itu bagi saya membuat film ini lumayan layak ditonton apalagi di saat liburan dan harus di rumah aja.

Seorang petani yang gemar memasak, petualang yang gemar pamer foto, pemilik kedai kopi yang gemar menulis, penikmat film yang menggilai Tarkovsky dan Kubrick, dan belakangan menjadi penikmat dan pecinta Bintang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top