Februari Yang Masih Ajrut-Ajrutan

Kehidupan2 Comments on Februari Yang Masih Ajrut-Ajrutan

Februari Yang Masih Ajrut-Ajrutan

Tanpa terasa bulan sudah berputar dua kali di tahun ini dan rupanya saya masih berkutat dengan kegelapan pekerjaan di Bali. Bayangkan, pekerjaan yang sudah belasan tahun saya rintis, tiba-tiba musnah karena pelaksana utamanya meninggal mendadak dan karena pandemi maka saya tidak bisa turun tangan sendiri untuk mengatasi masalah-masalah di sana. Jadilah bulan ini saya masih serasa naik kereta luncur. Beberapa hari terasa di atas tapi di hari-hari berikutnya bisa mendadak terjun ke bawah.

Bulan ini juga jadi bulan di mana keputusan untuk pindahan dieksekusi dengan cepat. Saya yang sepanjang Januari masih sendirian di Cipanas bulan ini mendadak bolak-balik ke Jakarta karena harus mengangkut barang-barang yang tak akan muat bila dipindahkan ke tempat tinggal kami yang baru di bilangan Bintaro.

Ada juga yang menarik bulan ini: sebuah laptop lama akhirnya kembali berfungsi setelah selama 4 tahun lebih saya tunda-tunda perbaikannya. Dan seperti tulisan saya sebelumnya, saya sangat senang saat barang yang sudah “mati” atau “mati suri” bisa kembali bermanfaat. Laptop yang saya beli dan rusak dalam waktu kurang dari satu tahun ini memang terasa seperti barang baru karena ya memang sejak rusak tidak pernah saya pakai lagi.

Selamat tinggal Februari, terima kasih untuk pelajaran hidup sebulan ini.

Seorang petani yang gemar memasak, petualang yang gemar pamer foto, pemilik kedai kopi yang gemar menulis, penikmat film yang menggilai Tarkovsky dan Kubrick, dan belakangan menjadi penikmat dan pecinta Bintang.

2 thoughts on “Februari Yang Masih Ajrut-Ajrutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top