Love, Victor = Melela 101

Ceritanya gini, hari Valentine kemarin Miles Heizer dan pacarnya, Connor Jessup, bikin postingan bareng tentang kebersamaan mereka. Saya yang sejak lama ngefans sama Heizerpun tergoda untuk menonton lagi film-film atau serial yang pernah dibintanginya. Pilihan jatuh pada film “Love, Simon” (2018) yang kemudian mengingatkan saya pada serial yang dibuat menyusul larisnya film itu. “Love, Victor” (2020) adalah serial yang saya maksud.

Serial “Love, Victor” berkisah tentang Victor Salazar yang ikut keluarganya pindah dari Texas ke Atlanta dan kemudian bersekolah di sekolah yang sama dengan Simon dalam film “Love, Simon”. Dia yang sangat terkesan pada kisah melela Simonpun kemudian berkirim pesan melalui Instagram dan dijawab oleh Simon. Komunikasi di antara mereka lalu terjalin. Victor banyak meminta saran tentang kebingungan akan orientasi seksualnya dan Simon menjawabnya berdasarkan pengalaman yang telah dia lewati.

Saat Simon melela di film “Love, Simon” (2020). Foto: cbr.com

Sebagai sebuah serial, “Love, Victor” memang bisa lebih panjang lebar menggambarkan kebingungan seseorang saat berhadapan dengan dirinya sendiri menyangkut orientasi seksual yang “tidak biasa”. Di dalamnya ada rasa penolakan, rasa takut, rasa ingin tahu, juga rasa ingin menjadi sama dengan orang kebanyakan yang sekaligus berbaur dengan rasa ingin menjadi diri sendiri. Semua ini sangat jamak terjadi pada mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, baik di lingkungan terdekat seperti keluarga, maupun di lingkungan yang lebih luas seperti teman sekolah, bahkan masyarakat luas.

Love, Victor
Adegan final dalam “Love, Simon” digambarkan ulang di awal serial “Love, Victor” namun dengan tokoh Victor yang bingung akan orientasi seksualnya. Foto: HULU

Dalam kasus Victor, dia menggambarkan bahwa dirinya berbeda dengan Simon yang memiliki keluarga yang berpikiran sangat maju dan terbuka. Ketika Simon yang memiliki latar belakang keluarga yang demikian terbuka saja merasa kesulitan saat harus mengungkap orientasi seksualnya, apalagi Victor yang memiliki keluarga yang berpikir lebih tradisional dan religius. Karena itulah Victor berkali-kali harus meyakinkan dirinya bahwa dia mampu mengikuti tuntutan keluarganya yaitu menjadi heteroseksual walaupun dalam hati dia selalu bimbang akan hal itu.

Serial ini juga menarik ketika menggambarkan bahwa dunia homoseksual bukanlah sebuah dunia yang tunggal melainkan plural. Di dalamnya ada bermacam kelompok dengan kisahnya masing-masing. Walau demikian, kelompok minoritas ini tetap menemukan kesamaannya di dalam berbagai perbedaan.

Bagi saya, kisah melela selalu menarik karena seperti halnya sidik jari, selalu berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Ada yang melakukannya dengan mudah dan lancar tapi ada juga yang harus mengalami perlakuan tidak menyenangkan bahkan sampai berujung pada kematian.

Secara keseluruhan serial “Love, Victor” menarik untuk ditonton. Di dalamnya bukan hanya berkisah tentang tema utama tentang Victor yang hendak menemukan jati diri, melainkan juga masalah keluarga lain seputar penerimaan dan pemaafan.

Sampai jumpa di “Love, Victor” musim kedua Juni 2021 ini.

Danang

Seorang petani yang gemar memasak, petualang yang gemar pamer foto, pemilik kedai kopi yang gemar menulis, penikmat film yang menggilai Tarkovsky dan Kubrick, dan belakangan menjadi penikmat dan pecinta Bintang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *