Seaspiracy: Dokumenter Kontroversial Industri Perikanan

Film PandanganLeave a Comment on Seaspiracy: Dokumenter Kontroversial Industri Perikanan

Seaspiracy: Dokumenter Kontroversial Industri Perikanan

Seaspiracy masuk dalam radar tontonan yang dipilihkan Netflix untuk saya karena belakangan saya memang gemar menonton serial dokumenter. Pilihan Netflix nggak salah, film dokumenter ini memang menarik walau beberapa kesimpulannya kurang saya sepakati.

Seaspiracy membongkar kekejian dalam industri perikanan

Film dokumenter ini dibuka dengan sebuah pernyataan mengejutkan tentang betapa klisenya orang yang sibuk mengurangi sampah plastik karena takut membunuh ikan-ikan dan mahluk hidup lain di laut tapi tidak pernah berpikir bahwa industri perikanan justru membunuh lebih banyak ikan dan mahluk lain di lautan dengan cara-cara yang lebih keji. Ini menarik!

Film dimulai dengan mempertontonkan bagaimana industri perikanan bekerja. Dimulai dari Jepang. Negara yang saya kira selama ini penuh sopan-santun dan penghormatan pada alam rupanya tidak berbeda dengan negara lain. Jepang membolehkan penangkapan dan pembunuhan dengan keji ikan lumba-lumba dan hiu. Digambarkan bahwa untuk menangkap satu ikan lumba-lumba demi tontonan di taman hiburan, ada banyak ikan lumba-lumba lain yang mati sebagai korban.

Tidak hanya Jepang, film ini juga menangkap gambar-gambar tentang kekejian industri perikanan saat melakukan kegiatannya di negara-negara Eropa. Ya, Eropa yang selama ini terkenal dengan berbagai kegiatan konservasi lingkungan, penyanyang binatang, dan lain-lain, rupanya setali tiga uang dalam hal kekejian di industri perikanan.

Bukan hanya itu, kegiatan industri perikanan yang “misterius” juga mengundang bahaya bagi siapapun yang mencoba meliput dan membahasnya. Pengaman bayaran bahkan polisi segera datang ketika kru film dokumenter ini berusaha mengambil gambar. Mengerikan ya!

Membongkar kebohongan lembaga-lembaga sertifikasi dalam industri perikanan

Tidak hanya industri perikanannya saja yang jadi sorotan film ini. Lembaga-lembaga yang mengeluarkan sertifikasi, yang membuat konsumen merasa telah “berbuat baik” pun dibongkar kebohongannya.

Digambarkan bahwa label yang banyak ditempelkan pada produk-produk industri perikanan seperti “Dolphin Safe” yang menandakan bahwa dalam penangkapan ikan, tidak ada ikan lumba-lumba yang tersakiti atau “Sustainable Fishing” yang menandakan bahwa penangkapan ikan dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan di wilayah yang memang diperbolehkan untuk melakukan penangkapan ikan, dan banyak label “indah” lainnya adalah penipuan.

More than 90,000 dolphins are estimated to be killed annually in tuna fisheries worldwide.

Natural Resources Defense Council (NRDC)

Dalam film ini, ketika kepala-kepala lembaga sertifikasi ini didatangi, banyak di antara mereka yang memberikan pernyataan bahwa pada kenyataannya tidak mudah untuk mengawasi semua industri perikanan yang mereka beri sertifikat. Bahkan yang lebih mengagetkan adalah, banyak pengawas mereka yang terancam hidupnya bila melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Jadi ya sebenarnya, label itu hanyalah label belaka yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kenyataan di lapangan.

Nope. Nobody can. Once you’re out there in the ocean, how do you know what they’re doing? We have observers onboard—observers can be bribed and are not out on a regular basis

Mark J. Palmer, associate director of the International Marine Mammal Project (IMMP)

Perbudakan di industri perikanan

Saat saya menyampaikan pendapat saya tentang film Seaspiracy di sebuah media sosial, seorang teman bertanya: “Masalah perbudakan disinggung juga nggak tuh? Kan parah banget perbudakan di industri perikanan.”

Ya, film ini juga memberikan porsi yang cukup untuk membahas hal ini. Dalam hasil investigasinya, banyak anak di bawah umur yang dipekerjakan tanpa pendapatan yang layak dalam industri perikanan. Bukan hanya itu, tidak kalah banyak juga orang dewasa yang diperbudak dalam industri ini. Bahkan, kematian adalah hal yang biasa ditemui karena orang bisa dibunuh sewaktu-waktu lalu jasadnya dibuang ke laut begitu saja tanpa penyelidikan lebih lanjut dan penangkapan terhadap orang-orang yang bertanggungjawab.

Kesimpulan Seaspiracy yang mengerikan

Pada bagian kesimpulan film ini saya mengernyitkan dahi. Apa iya dengan segala gambaran kekejian ini maka manusia sebaiknya berhenti makan ikan? Mungkin ini pembelaan saya yang walau sempat bertahun-tahun hidup sebagai vegetarian tapi sekarang kembali memakan binatang yang tidak saya bunuh sendiri, tapi saya kok berpikir bahwa masih ada jalan lain yang menjadi kompromi antara pembunuhan keji terhadap ikan dan kebutuhan manusia akan protein dari ikan-ikan tersebut.

Bagaimana dengan mengembalikan penangkapan ikan ke cara-cara yang lebih tradisional. Bukan dengan kapal-kapal raksasa yang ketika menangkap ikan bukan hanya mematikan ikan tapi juga seluruh kehidupan laut di bawahnya.

Bagaimana dengan mulai membeli ikan dari nelayan-nelayan tradisonal dan bukan dari industri-industri besar? Mungkin harganya akan lebih mahal tapi demi menghidupi nelayan tradisional dan menghargai kehidupan laut, kenapa tidak?

Susah? Repot? Ya pastilah! Tapi ya memang harus begitu prosesnya. Bukankah awalnya kita juga hidup dari apa yang kita dapat di sekitar kita ya? Bukan dari membeli dari tempat jauh yang kemudian didekatkan ke kita oleh industri.

Seorang petani yang gemar memasak, petualang yang gemar pamer foto, pemilik kedai kopi yang gemar menulis, penikmat film yang menggilai Tarkovsky dan Kubrick, dan belakangan menjadi penikmat dan pecinta Bintang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top