What If It’s Us

Buku PandanganLeave a Comment on What If It’s Us

What If It’s Us

Minggu lalu saya dibuat termehek-mehek oleh buku yang di banyak media sosial saya bilang: “kemanisan sampai bacanya harus sedikit-sedikit karena takut diabetes.” What if it’s us adalah buku terbitan tahun 2018 yang konon akhir tahun ini akan ada buku lanjutannya. Karena itulah saya langsung berburu dan buru-buru membaca buku karya Becky Albertalli dan Adam Silvera ini.

“What if it’s us” bercerita tentang Arthur dan Ben yang tidak sengaja bertemu di sebuah kantor pos di New York (Yeah! Kantor pos adalah gedung yang saya terobsesi akannya. Setiap kali bepergian ke manapun, saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kantor posnya. Mungkin ini juga yang membuat saya tergila-gila akan buku ini). Saat itu Arthur sedang menikmati New York, sambil berusaha untuk tidak terlihat seperti turis (karena dia memang hanya mengunjungi New York untuk bekerja sampingan di kantor ibunya selama musim panas), sedangkan Ben, yang memang tinggal di New York sedang membawa boks berisi barang-barang milik Hudson, mantan pacarnya, untuk dikirim balik ke alamat rumah Hudson. Mereka bertemu begitu saja, berbincang sedikit, lalu berpisah juga begitu saja karena tiba-tiba ada kehebohan flash mob di kantor pos.

Perpisahan yang begitu mendadak, tanpa sempat bertukar nomor telepon bahkan nama membuat Arthur berusaha mencari cara untuk bisa menemukan Ben. Aneka rencana mulai dari membuat postingan di internet sampai bertanya pada orang-orang secara randompun dibuat Arthur. Bayangkan, mencari orang yang tidak diketahui namanya, di kota sebesar dan sesibuk New York, yang bahkan bukan kota tempat tinggal Arthur. Bagian ini yang membuat What If It’s Us bikin gemes!

Saya nggak mau tulisan ini menjadi beberan bagi yang belum membaca bukunya, jadi ya biarlah pertanyaan apakah Arthur akhirnya bisa bertemu dengan Ben dan bagaimana caranya, tetap menjadi misteri. Saya hanya ingin mengatakan bahwa buku ini bisa jadi adalah buku yang buruk untuk sebagian orang karena terkesan terlalu indah, terlalu kisah pangeran dan putri a la dongeng-dongeng klasik. Tapi bagi saya dan sebagian orang lain, buku ini adalah buku yang manis. Biarlah sesekali saya terbawa dalam kisah yang mungkin terlalu indah, terlalu roman picisan, toh buku ini hanya hiburan saja.

Seorang petani yang gemar memasak, petualang yang gemar pamer foto, pemilik kedai kopi yang gemar menulis, penikmat film yang menggilai Tarkovsky dan Kubrick, dan belakangan menjadi penikmat dan pecinta Bintang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top